Petunjuk Percobaan Hukum III Newton
Topik percobaan : Hukum III Newton
Tujuan percobaan :
– Mengamati contoh hukum III Newton
– Mengetahui gaya aksi-reaksi
Alat dan bahan : Balon karet, papan peluncur
Petunjuk Percobaan Hukum III Newton
Topik percobaan : Hukum III Newton
Tujuan percobaan :
– Mengamati contoh hukum III Newton
– Mengetahui gaya aksi-reaksi
Alat dan bahan : Balon karet, papan peluncur
Petunjuk Percobaan pengaruh Kalor terhadap Suhu
Topik percobaan : Pengaruh Kalor terhadap Suhu
Tujuan percobaan : Mengetahui pengaruh kalor terhadap suhu benda
Alat dan bahan : Termometer, Pemanas listrik, Es.
Langkah Percobaan
1. Masukkan es ke dalam wadah pemanas listrik
Petunjuk Percobaan Gaya Gesek Statis dan Kinetis
Topik percobaan : Gaya gesek statis dan gaya gesek kinetis
– Mengetahui gaya gesek statis
– Mengetahui gaya gesek kinetis
Petunjuk Percobaan Koefisien Gesek Statis
Topik percobaan : Koefisien Gesek Statis
Tujuan percobaan : Menentukan koefisien gesek statis suatu benda
Alat dan bahan : Bidang miring, busur derajat, kayu, aluminium, keramik, besi, plastik, karet, dll.
Dasar Teori :
Gaya Gesek Statis dan Kinetis
Petunjuk Percobaan Osilasi Bandul Sederhana
Topik percobaan : Osilasi Bandul Sederhana
Tujuan percobaan : Mengetahui pengaruh panjang tali (l), massa beban (m) dan simpangan (A) terhadap periode osilasi (T)
Alat dan bahan : Statif, Beberapa beban 50 gram, Stopwatch, Mistar.
Langkah persiapan :
Petunjuk Percobaan Osilasi Pegas
Topik percobaan : Osilasi Pegas
Tujuan percobaan : Mengetahui pengaruh massa (m) dan simpangan (A) terhadap periode (T) osilasi
Alat dan bahan : Statif, Beberapa beban 50 gram, Pegas, Stopwatch
Langkah persiapan :
1. Rangkai statif seperti pada gambar
2. Gantung pegas pada statif
Topik percobaan : Titik Berat
Tujuan percobaan :
– Menentukan letak titik berat benda homogen
– Menentukan letak titik berat benda tak homogen
Alat dan bahan : Statif, Benang dan beban 50 gram, Kertas karton masing-masing berbentuk persegi, persegi panjang, lingkaran, segitiga, tak beraturan.
Pelajari juga Contoh soal resistor paralel dan Contoh soal resistor seri
Materi Resistor Hambatan Paralel

Jika resistor-resistor terangkai seperti pada gambar di samping, resistor-resistor tersebut terangkai secara paralel.
Muatan listrik kekal sehingga arus listrik (arus listrik = muatan listrik yang mengalir selama suatu selang waktu) yang masuk ke titik cabang sama dengan arus listrik yang keluar dari titik cabang. Terdapat beberapa cabang sehingga arus listrik total = jumlah dari arus listrik yang mengalir pada masing-masing cabang. Secara matematis I = I1 + I2 + I3. Sedangkan beda potensial listrik atau tegangan listrik (V) pada masing-masing cabang bernilai sama.
Pelajari juga Contoh soal resistor paralel dan Contoh soal resistor seri
Materi Resistor Hambatan Seri

Jika resistor-resistor dihubungkan seperti pada gambar di samping, resistor-resistor tersebut terangkai secara seri. Resistor atau hambatan listrik yang dimaksud bisa berupa komponen resistor, lampu atau alat penghambat listrik lainnya.
Muatan listrik (Q) kekal sehingga muatan listrik yang bergerak melalui hambatan 1 (R1) = muatan listrik yang bergerak melalui hambatan 2 (R2) = muatan listrik yang bergerak melalui hambatan 3 (R3). Arus listrik (I) merupakan muatan listrik yang mengalir selama selang waktu tertentu (I = Q/t), karenanya arus listrik yang melalui hambatan 1 (I1) = arus listrik yang melalui hambatan 2 (I2) = arus listrik yang melalui hambatan 3 (I3). Secara matematis, arus listrik total (I) = I1 = I2 = I3.
Pernakah Anda bertanya, Mengapa awan berada di ketinggian dan bisa turun ke lereng gunung atau bukit pada musim hujan? Ketika musim hujan tiba, awan bahkan bisa turun ke lereng gunung atau bukit lalu kembali lagi ke atas. Mengapa awan turun dan apa yang menyebabkan awan bergerak lagi ke atas ?
Untuk memahami hal ini, terlebih dahulu pahami konsep massa jenis. Massa jenis alias kerapatan merupakan perbandingan massa terhadap volume, secara matematis dinyatakan melalui persamaan ρ = m / V, di mana ρ adalah lambang massa jenis, m adalah lambang massa dan V adalah lambang volume. Sebagai contoh, jika massa = 1 kg dan volume = 1 m3 maka massa jenis = 1/1 = 1 kg/m3. Apabila massa = 1 kg dan volume = 2 m3 maka massa jenis = 1/2 = 0,5 kg/m3. Demikian juga bila massa = 1 kg dan volume = 4 m3 maka massa jenis = 1/4 = 0,25 kg/m3. Dapat disimpulkan jika volume semakin besar sedangkan massa tetap maka massa jenis semakin kecil.