Bahaya memakai pasta gigi abrasi

Bahaya Memakai Pasta Gigi Abrasi

Pasta gigi adalah produk perawatan sehari-hari yang terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar terhadap kesehatan gigi dan mulut. Salah memilih jenis pasta gigi, terutama yang bersifat abrasif (mengikis), dapat menimbulkan masalah jangka panjang. Banyak orang tergiur oleh klaim “memutihkan cepat” atau sensasi gigi terasa sangat bersih, padahal efek “bersih” tersebut kadang berasal dari daya kikis yang terlalu tinggi. Artikel ini membahas apa itu pasta gigi abrasi, mengapa bisa berbahaya, tanda-tandanya, serta cara memilih pasta gigi yang lebih aman.

Apa Itu Pasta Gigi Abrasi?

Pasta gigi abrasi adalah pasta gigi yang mengandung bahan abrasif (pengikis) dalam kadar atau tingkat kekasaran tertentu. Bahan abrasif ini sebenarnya diperlukan untuk membantu mengangkat plak, noda dari makanan/minuman (misalnya kopi dan teh), serta sisa-sisa kotoran di permukaan gigi. Namun, bila tingkat abrasinya terlalu tinggi atau dipakai dengan cara yang salah, bahan tersebut dapat mengikis email gigi dan merusak jaringan pelindung gigi.

Beberapa bahan abrasif yang umum ditemukan antara lain silika terhidrasi (hydrated silica) , kalsium karbonat (calcium carbonate) , dicalcium phosphate , dan alumina . Tidak semua bahan ini otomatis berbahaya; masalahnya terletak pada kombinasi tingkat abrasivitas , frekuensi pemakaian , teknik menyikat , dan kondisi gigi masing-masing orang.

Mengapa Banyak Pasta Gigi Terasa “Memutihkan”?

Pasta gigi pemutih sering mengandalkan dua pendekatan: pertama, bahan kimia pemutih (misalnya peroksida dalam kadar tertentu); kedua, abrasif yang lebih kuat untuk mengikis noda di permukaan. Pendekatan abrasif biasanya memberikan hasil cepat pada noda luar (extrinsic stain), tetapi tidak mengubah warna dasar gigi dari dalam. Artinya, gigi bisa tampak lebih cerah sementara, namun email pelindungnya malah menipis dari waktu ke waktu.

Bahaya Utama Pasta Gigi Abrasi

READ  Cara mencegah gigi copot

1) Mengikis Email Gigi
Email gigi adalah lapisan terluar yang paling keras pada tubuh manusia, tetapi bukan berarti kebal. Gesekan rutin dari pasta gigi yang terlalu abrasif—apalagi bila dibarengi sikat gigi berbulu keras dan tekanan menyikat kuat—dapat menyebabkan penipisan email . Email yang menipis tidak dapat tumbuh kembali secara alami. Dampaknya bisa permanen.

Saat email terkikis, gigi lebih rentan terhadap:
– gigi berlubang (karies),
– patah/retak halus,
– perubahan warna.

2) Gigi Menjadi Sensitif
Di bawah email terdapat dentin, lapisan yang memiliki saluran kecil (tubulus dentin) yang terhubung ke saraf. Ketika email menipis atau gusi turun sehingga akar gigi terbuka, rangsangan dari dingin, panas, manis, atau asam lebih mudah “masuk” dan memicu nyeri. Banyak orang mengira sensitivitas gigi semata-mata karena “gigi lemah”, padahal salah satu pemicunya bisa dari kebiasaan menggunakan pasta gigi abrasif dalam jangka panjang.

3) Memicu Resesi Gusi (Gusi Turun)
Abrasivitas tinggi tidak hanya memengaruhi permukaan gigi, tetapi juga dapat memperburuk iritasi di area perbatasan gigi-gusi, terutama jika teknik menyikat salah (gerakan horizontal keras). Lama-kelamaan, gusi bisa mengalami resesi (turun), akar gigi menjadi lebih terbuka, dan sensitivitas meningkat. Akar gigi tidak dilapisi email, sehingga lebih mudah terkikis dibanding mahkota gigi.

4) Abrasi Servikal (Cekungan di Leher Gigi)
Salah satu tanda klasik kerusakan akibat abrasi adalah munculnya cekungan berbentuk V atau lekukan halus di area leher gigi (dekat gusi). Kondisi ini disebut lesi abrasi atau sering tampak sebagai “gigi seperti terkikis di pangkalnya”. Selain mengganggu estetika, area tersebut rawan ngilu dan lebih sulit dibersihkan, sehingga risiko penumpukan plak meningkat.

5) Gigi Terlihat Lebih Kuning Seiring Waktu
Paradoksnya, terlalu sering memakai pasta gigi abrasif untuk “memutihkan” bisa membuat gigi tampak lebih kuning dalam jangka panjang. Mengapa? Karena saat email menipis, lapisan dentin di bawahnya—yang secara alami berwarna lebih kekuningan—menjadi lebih terlihat. Jadi, efeknya berbalik dari tujuan awal.

READ  Tanda dan gejala gingivitis

6) Meningkatkan Risiko Kerusakan pada Tambalan dan Restorasi
Bagi orang yang memiliki tambalan, veneer, atau restorasi gigi lainnya, pasta gigi yang terlalu abrasif dapat mempercepat keausan permukaan restorasi tertentu atau membuat permukaannya menjadi kasar. Permukaan yang kasar lebih mudah ditempeli plak dan noda.

Siapa yang Lebih Berisiko?

Tidak semua orang akan mengalami masalah yang sama, tetapi risiko meningkat pada:
– orang yang menyikat gigi terlalu keras atau terlalu lama,
– pengguna sikat berbulu keras,
– perokok atau peminum kopi/teh berat yang mengejar “putih instan”,
– orang dengan gusi sensitif atau resesi gusi,
– penderita bruxism (kebiasaan menggemeretakkan gigi), karena email sudah mendapat tekanan tambahan,
– orang dengan kebiasaan konsumsi makanan/minuman asam (soda, jeruk, cuka) yang membuat email lebih “lunak” sementara.

Tanda-Tanda Anda Mungkin Memakai Pasta Gigi Terlalu Abrasif

Perhatikan gejala berikut:
– gigi makin sering ngilu saat minum dingin/panas,
– muncul cekungan atau garis aus di dekat gusi,
– gusi mudah iritasi atau tampak turun,
– gigi terlihat lebih “mengkilap” namun terasa kasar di beberapa bagian,
– warna gigi cenderung menguning setelah beberapa waktu meski rajin menyikat.

Jika Anda merasakan tanda-tanda tersebut, sebaiknya evaluasi produk yang dipakai dan konsultasi ke dokter gigi.

Cara Memilih Pasta Gigi yang Lebih Aman

1. Pilih pasta gigi berfluoride untuk membantu remineralisasi dan melindungi dari karies.
2. Hindari mengejar efek putih instan bila gigi Anda sensitif atau gusi mudah turun. Pemutih yang aman biasanya bertahap, bukan agresif.
3. Cari informasi RDA (Relative Dentin Abrasivity) bila tersedia. Semakin tinggi nilai RDA, semakin abrasif. Umumnya, pasta gigi harian sebaiknya tidak terlalu tinggi abrasinya.
4. Gunakan sikat berbulu lembut (soft) dan teknik menyikat yang benar: gerakan kecil melingkar atau metode Bass yang lembut, bukan digosok horizontal keras.
5. Jangan menyikat gigi tepat setelah konsumsi makanan/minuman asam. Tunggu sekitar 30 menit agar pH mulut pulih; menyikat saat kondisi asam dapat mempercepat pengikisan.

READ  Prosedur perawatan odontoma

Alternatif untuk Memutihkan Gigi dengan Lebih Aman

Jika tujuan Anda adalah gigi lebih putih, pertimbangkan cara yang lebih terukur:
– scaling atau pembersihan karang gigi di dokter gigi,
– pasta gigi khusus sensitivitas jika Anda ngilu,
– perawatan pemutihan profesional (bleaching) dengan pengawasan,
– mengurangi kebiasaan yang menimbulkan noda (rokok, kopi berlebih),
– perawatan kebersihan mulut yang konsisten: flossing, berkumur, dan kontrol rutin.

Penutup

Pasta gigi abrasif tidak selalu “jahat” karena bahan abrasif memang dibutuhkan untuk membersihkan gigi. Namun, ketika abrasivitas terlalu tinggi atau digunakan terus-menerus dengan teknik menyikat yang salah, risikonya nyata: email terkikis, gigi sensitif, gusi turun, muncul cekungan di leher gigi, hingga gigi terlihat lebih kuning dalam jangka panjang. Kunci utamanya adalah memilih pasta gigi yang sesuai kebutuhan, menggunakan sikat yang lembut, dan menyikat dengan tekanan yang benar.

Jika Anda ragu apakah pasta gigi yang Anda gunakan terlalu abrasif—terutama bila mulai sering ngilu atau tampak cekungan di dekat gusi—konsultasikan dengan dokter gigi. Perawatan pencegahan selalu lebih murah dan lebih nyaman daripada memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi.

Tinggalkan Balasan