Me pēhea te tātaritanga i te mate huka mellitus
Diabetes mellitus adalah penyakit metabolik kronis yang ditandai oleh kadar gula darah (glukosa) yang tinggi akibat gangguan produksi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Karena diabetes dapat berkembang perlahan tanpa gejala yang jelas, banyak orang baru mengetahui kondisinya setelah muncul komplikasi. Oleh sebab itu, memahami cara mendiagnosis diabetes mellitus menjadi langkah penting untuk deteksi dini, penanganan tepat, serta pencegahan dampak jangka panjang. Artikel ini membahas tanda-tanda yang perlu diwaspadai, pemeriksaan yang digunakan, hingga kriteria diagnosis yang umum dipakai secara medis.
1. Mengenali Gejala dan Faktor Risiko
Diagnosa diabetes mellitus biasanya dimulai dari kecurigaan klinis. Dokter akan menilai apakah seseorang memiliki gejala khas atau faktor risiko yang tinggi.
Gejala klasik diabetes
Gejala klasik yang sering muncul dikenal dengan “3P”:
1. Poliuria : sering buang air kecil, terutama pada malam hari.
2. Polidipsia : sering merasa haus berlebihan.
3. Polifagia : sering merasa lapar meskipun sudah makan.
Gejala lain yang juga dapat terjadi:
– Berat badan turun tanpa sebab jelas
– Mudah lelah
– Penglihatan kabur
– Luka sulit sembuh
– Infeksi berulang (misalnya infeksi kulit, saluran kemih, atau jamur)
– Kesemutan atau baal pada tangan dan kaki (neuropati)
Pada beberapa orang—terutama pada diabetes tipe 2—gejala bisa sangat ringan atau bahkan tidak terasa, sehingga pemeriksaan laboratorium menjadi kunci.
Faktor risiko diabetes tipe 2
Orang dengan kondisi berikut lebih disarankan melakukan skrining:
– Kelebihan berat badan atau obesitas (terutama lemak perut)
– Riwayat keluarga diabetes
– Kurang aktivitas fisik
– Usia di atas 45 tahun (meski kini makin banyak terjadi pada usia lebih muda)
– Hipertensi atau kolesterol tinggi
– Riwayat diabetes gestasional (diabetes saat hamil) atau melahirkan bayi >4 kg
– Sindrom ovarium polikistik (PCOS)
– Riwayat penyakit jantung atau stroke
2. Pemeriksaan Laboratorium untuk Diagnosis
Diagnosis diabetes mellitus tidak hanya berdasarkan gejala, melainkan terutama dari hasil pemeriksaan kadar gula darah. Ada beberapa tes utama yang digunakan.
A. Tes Glukosa Plasma Puasa (GDP)
Tes ini mengukur kadar gula darah setelah berpuasa minimal 8 jam (biasanya dilakukan pagi hari).
Interpretasi hasil umum:
– Normal: <100 mgdL
- Prediabetes (gangguan glukosa puasa): 100–125 Diabetes:≥126
(dikonfirmasi dengan tes ulangpada hari berbeda bila tanpa gejala)
Tes ini cukup banyak digunakan karena relatif mudah dan biayanya lebih terjangkau. Namun, hasilnya bisa dipengaruhi oleh kondisi akut seperti infeksi, stres berat, atau penggunaan obat tertentu.
B. Tes HbA1c (Hemoglobin A1c)
HbA1c menggambarkan rata-rata kadar gula darah selama sekitar 2–3 bulan terakhir. tidak memerlukan puasa menjadi salah satu metode paling praktis untuk memantau mendiagnosis diabetes.
Interpretasi hasil umum: Normal: <5,7% Prediabetes: 5,7–6,4% ≥6,5% (biasanya perlu konfirmasi gejala)
HbA1c
sangat berguna mencerminkan
kontrol jangka panjang.
akurasinya dapat terganggu tertentu anemia perdarahan, hemoglobinopati, penyakit ginjal C. Toleransi Glukosa Oral (TTGO OGTT)
Pada ini, pasien berpuasa lalu diperiksa puasa, kemudian minum larutan 75 gram). Gula diukur kembali setelah 2 jam.
jam glukosa: <140 (toleransi terganggu): 140–199 ≥200 seringlain meragukan, mendeteksi gangguan toleransi glukosa. Kekurangannya adalah membutuhkan waktu lama persiapan ketat.
D. Plasma Sewaktu (Random Glucose)
Tes dilakukan kapan saja puasa. Diagnosis diabetes ditegakkan bila: