{"id":605,"date":"2026-06-07T09:00:44","date_gmt":"2026-06-07T01:00:44","guid":{"rendered":"https:\/\/gurumuda.net\/kebidanan\/manajemen-asuhan-kebidanan-pada-kasus-demam-berdarah.htm"},"modified":"2026-06-07T09:00:44","modified_gmt":"2026-06-07T01:00:44","slug":"manajemen-asuhan-kebidanan-pada-kasus-demam-berdarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/gurumuda.net\/kebidanan\/manajemen-asuhan-kebidanan-pada-kasus-demam-berdarah.htm","title":{"rendered":"Manajemen asuhan kebidanan pada kasus demam berdarah","gt_translate_keys":[{"key":"rendered","format":"text"}]},"content":{"rendered":"<p>        Manajemen Asuhan Kebidanan pada Kasus Demam Berdarah<\/p>\n<p>               Pendahuluan<br \/>\nDemam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk        Aedes aegypti        dan        Aedes albopictus       . Di banyak wilayah tropis, DBD masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang sering menimbulkan kejadian luar biasa, termasuk pada kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu nifas, dan bayi baru lahir. Dalam konteks pelayanan kebidanan, DBD memerlukan perhatian khusus karena dapat memengaruhi kondisi ibu dan janin sekaligus, serta berpotensi menimbulkan komplikasi serius seperti perdarahan, syok, dehidrasi, hingga gangguan pada proses persalinan.<\/p>\n<p>Manajemen asuhan kebidanan pada kasus DBD menuntut bidan untuk mampu melakukan deteksi dini, pemantauan ketat, edukasi, kolaborasi dengan tenaga medis lain, serta rujukan yang cepat dan tepat. Artikel ini membahas prinsip dan langkah-langkah manajemen asuhan kebidanan pada kasus DBD, terutama pada ibu hamil, dengan tetap mempertimbangkan keselamatan ibu dan janin.<\/p>\n<p>               Gambaran Umum Demam Berdarah Dengue<br \/>\nDBD ditandai dengan demam tinggi mendadak (2\u20137 hari) disertai gejala lain seperti nyeri kepala, nyeri otot dan sendi, mual muntah, ruam, serta manifestasi perdarahan (misalnya mimisan, gusi berdarah, petekie). Pada fase kritis (biasanya hari ke-3 sampai ke-5), dapat terjadi kebocoran plasma yang menyebabkan hemokonsentrasi, penurunan tekanan darah, dan syok (       Dengue Shock Syndrome       ). Pemeriksaan laboratorium yang khas meliputi trombositopenia, peningkatan hematokrit, dan hasil serologi\/antigen dengue (NS1) yang mendukung diagnosis.<\/p>\n<p>Pada ibu hamil, DBD dapat meningkatkan risiko abortus, persalinan prematur, perdarahan antepartum maupun postpartum, serta gawat janin akibat gangguan perfusi plasenta. Oleh karena itu, asuhan kebidanan harus dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan.<\/p>\n<p>               Tujuan Manajemen Asuhan Kebidanan<br \/>\nManajemen asuhan kebidanan pada kasus DBD bertujuan untuk:<br \/>\n1. Mengidentifikasi dini tanda dan gejala DBD pada ibu hamil.<br \/>\n2. Mencegah terjadinya komplikasi berat, terutama syok dan perdarahan.<br \/>\n3. Menjaga keseimbangan cairan dan kondisi hemodinamik ibu.<br \/>\n4. Memantau kesejahteraan janin secara berkala.<br \/>\n5. Memberikan edukasi dan dukungan psikologis kepada ibu dan keluarga.<br \/>\n6. Melakukan kolaborasi dan rujukan sesuai indikasi.<\/p>\n<p>               Pengkajian (Assessment) Kebidanan<br \/>\nPengkajian awal merupakan langkah penting agar bidan dapat menentukan tingkat keparahan dan kebutuhan penanganan. Hal-hal yang perlu dikaji meliputi:<\/p>\n<p>                      1. Anamnesis<br \/>\n&#8211; Keluhan utama: demam tinggi, lamanya demam, nyeri, mual muntah, lemas.<br \/>\n&#8211; Riwayat perdarahan: mimisan, muntah darah, BAB hitam, perdarahan gusi, bercak pada kulit.<br \/>\n&#8211; Riwayat paparan: lingkungan dengan kasus DBD, banyak nyamuk, genangan air.<br \/>\n&#8211; Riwayat kehamilan: usia kehamilan, gerak janin, riwayat komplikasi kehamilan sebelumnya.<br \/>\n&#8211; Riwayat penyakit: anemia, gangguan pembekuan darah, penyakit kronis.<\/p>\n<p>                      2. Pemeriksaan Fisik<br \/>\n&#8211; Tanda vital: suhu, tekanan darah, nadi, respirasi. Waspadai nadi cepat dan tekanan darah menurun.<br \/>\n&#8211; Tanda dehidrasi: turgor kulit, mukosa kering.<br \/>\n&#8211; Tanda perdarahan: petekie, ekimosis, perdarahan mukosa.<br \/>\n&#8211; Nyeri tekan perut, pembesaran hati, atau rasa tidak nyaman epigastrium (tanda bahaya).<br \/>\n&#8211; Pemeriksaan obstetri: tinggi fundus uteri, denyut jantung janin (DJJ), kontraksi, kondisi serviks bila ada tanda persalinan.<\/p>\n<p>                      3. Pemeriksaan Penunjang (Kolaboratif)<br \/>\nBidan berperan mendorong dan menindaklanjuti pemeriksaan penunjang sesuai kewenangan dan sistem layanan:<br \/>\n&#8211; Hematologi: trombosit, hematokrit, hemoglobin, leukosit.<br \/>\n&#8211; NS1\/IgM\/IgG dengue sesuai fase penyakit.<br \/>\n&#8211; Fungsi hati bila dicurigai keterlibatan organ.<br \/>\n&#8211; Pemantauan janin: USG, NST\/CTG bila tersedia dan indikasi.<\/p>\n<p>               Identifikasi Masalah dan Diagnosa Kebidanan<br \/>\nBidan menyusun diagnosa dan masalah kebidanan berdasarkan data. Contoh:<br \/>\n&#8211; Ibu hamil trimester II\/III dengan suspek DBD disertai demam tinggi dan trombositopenia.<br \/>\n&#8211; Risiko perdarahan terkait penurunan trombosit.<br \/>\n&#8211; Risiko syok hipovolemik akibat kebocoran plasma\/dehidrasi.<br \/>\n&#8211; Risiko gangguan kesejahteraan janin akibat penurunan perfusi plasenta.<br \/>\n&#8211; Kecemasan ibu dan keluarga terkait kondisi penyakit dan kehamilan.<\/p>\n<p>               Perencanaan dan Intervensi Asuhan Kebidanan<br \/>\nPenatalaksanaan DBD bersifat suportif dan memerlukan pemantauan ketat. Dalam praktik kebidanan, intervensi meliputi:<\/p>\n<p>                      1. Pemantauan Ketat Kondisi Ibu<br \/>\n&#8211; Observasi tanda vital secara berkala (lebih sering saat fase kritis).<br \/>\n&#8211; Memantau tanda bahaya DBD: nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas berat, gelisah, penurunan kesadaran, penurunan urin, ekstremitas dingin, sesak.<br \/>\n&#8211; Memantau input-output cairan dan frekuensi berkemih. Penurunan urin dapat menandakan syok atau dehidrasi.<\/p>\n<p>                      2. Manajemen Cairan dan Istirahat<br \/>\nBidan mengedukasi pentingnya istirahat cukup dan asupan cairan. Pada kasus ringan tanpa tanda bahaya, cairan oral dapat dianjurkan (air putih, larutan oralit, sup). Namun, bila terdapat muntah berulang, tanda dehidrasi berat, atau kondisi memburuk, perlu kolaborasi untuk terapi cairan intravena dan perawatan rumah sakit.<\/p>\n<p>                      3. Pencegahan dan Penanganan Perdarahan<br \/>\n&#8211; Edukasi untuk menghindari obat yang meningkatkan risiko perdarahan seperti aspirin dan ibuprofen.<br \/>\n&#8211; Kolaborasi dengan dokter bila trombosit sangat rendah atau terdapat perdarahan aktif.<br \/>\n&#8211; Pemantauan perdarahan pervaginam pada ibu hamil, terutama menjelang persalinan.<\/p>\n<p>                      4. Pemantauan Kesejahteraan Janin<br \/>\nDBD dapat memengaruhi perfusi plasenta. Tindakan bidan:<br \/>\n&#8211; Memantau gerak janin yang dilaporkan ibu.<br \/>\n&#8211; Memeriksa DJJ secara berkala.<br \/>\n&#8211; Kolaborasi pemeriksaan USG\/NST bila gerak janin berkurang atau ada tanda gawat janin.<br \/>\n&#8211; Menyiapkan rujukan segera jika ditemukan tanda distress janin.<\/p>\n<p>                      5. Asuhan Persalinan pada Ibu dengan DBD<br \/>\nJika ibu mengalami DBD mendekati waktu persalinan, manajemen harus lebih hati-hati:<br \/>\n&#8211; Persiapan persalinan di fasilitas yang mampu melakukan transfusi darah\/produk darah bila diperlukan.<br \/>\n&#8211; Antisipasi perdarahan postpartum (atonia uteri, koagulopati).<br \/>\n&#8211; Kolaborasi penentuan metode persalinan: tidak semua kasus harus operasi, tetapi keputusan bergantung pada kondisi ibu, janin, dan kadar trombosit serta tanda perdarahan.<br \/>\n&#8211; Manajemen aktif kala III untuk mencegah perdarahan postpartum sesuai pedoman.<\/p>\n<p>                      6. Edukasi Kesehatan dan Pencegahan<br \/>\nBidan berperan besar dalam promosi kesehatan:<br \/>\n&#8211; Pencegahan gigitan nyamuk: kelambu, pakaian panjang, repelan yang aman pada kehamilan sesuai anjuran, penggunaan kasa nyamuk.<br \/>\n&#8211; Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M plus: menguras, menutup, mendaur ulang\/menyingkirkan barang bekas, plus pencegahan lain.<br \/>\n&#8211; Edukasi kapan harus segera ke fasilitas kesehatan, terutama saat demam hari ke-3 sampai ke-5.<br \/>\n&#8211; Konseling gizi: makanan bergizi seimbang untuk mendukung pemulihan.<\/p>\n<p>               Implementasi, Evaluasi, dan Dokumentasi<br \/>\nDalam implementasi, bidan menjalankan rencana yang sudah disusun dan melakukan evaluasi berkala. Parameter keberhasilan antara lain: suhu menurun, tanda vital stabil, tidak ada tanda syok, asupan cairan adekuat, tidak ada perdarahan, trombosit dan hematokrit membaik, serta kesejahteraan janin terpantau baik. Bila kondisi memburuk atau muncul tanda bahaya, bidan harus segera melakukan rujukan dan komunikasi efektif dengan fasilitas rujukan.<\/p>\n<p>Dokumentasi harus lengkap dan sistematis: data subjektif, objektif, analisis, dan rencana (SOAP), termasuk catatan pemantauan trombosit\/hematokrit, input-output, DJJ, serta edukasi yang telah diberikan.<\/p>\n<p>               Kolaborasi dan Rujukan<br \/>\nDBD pada ibu hamil sering memerlukan penanganan interdisipliner. Bidan perlu berkolaborasi dengan dokter umum, dokter spesialis kebidanan, dan dokter penyakit dalam bila diperlukan. Indikasi rujukan segera meliputi: tanda syok, perdarahan signifikan, trombosit sangat rendah, penurunan kesadaran, sesak napas, penurunan gerak janin, atau adanya komplikasi obstetri seperti preeklamsia dan perdarahan antepartum.<\/p>\n<p>               Kesimpulan<br \/>\nManajemen asuhan kebidanan pada kasus demam berdarah menuntut ketelitian dalam pengkajian, pemantauan ketat fase kritis, pencegahan komplikasi perdarahan dan syok, serta perhatian khusus terhadap kesejahteraan janin. Bidan memiliki peran penting dalam deteksi dini, edukasi, dukungan psikologis, dan koordinasi rujukan. Dengan asuhan kebidanan yang cepat, tepat, dan kolaboratif, risiko komplikasi DBD pada ibu hamil dapat ditekan, sehingga keselamatan ibu dan bayi lebih terjamin.<\/p>\n<p>Jika Anda ingin, saya juga bisa menyusun artikel ini dalam format lebih akademik (dengan subbab \u201cPathway\u201d, \u201cSOAP\u201d, atau menggunakan referensi jurnal dan pedoman Kemenkes\/WHO) sesuai kebutuhan tugas.<\/p>\n","protected":false,"gt_translate_keys":[{"key":"rendered","format":"html"}]},"excerpt":{"rendered":"<p>Manajemen Asuhan Kebidanan pada Kasus Demam Berdarah Pendahuluan Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus . Di banyak wilayah tropis, DBD masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang sering menimbulkan kejadian luar biasa, termasuk pada kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu nifas, dan bayi &#8230; <a title=\"Manajemen asuhan kebidanan pada kasus demam berdarah\" class=\"read-more\" href=\"https:\/\/gurumuda.net\/kebidanan\/manajemen-asuhan-kebidanan-pada-kasus-demam-berdarah.htm\" aria-label=\"Baca selengkapnya tentang Manajemen asuhan kebidanan pada kasus demam berdarah\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false,"gt_translate_keys":[{"key":"rendered","format":"html"}]},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","_seopress_news_disabled":"","_seopress_video_disabled":"","_seopress_video":[],"_seopress_pro_schemas_manual":[],"_seopress_pro_rich_snippets_disable_all":"","_seopress_pro_rich_snippets_disable":[],"_seopress_pro_schemas":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-605","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kebidanan"],"gt_translate_keys":[{"key":"link","format":"url"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/gurumuda.net\/kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/605","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/gurumuda.net\/kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/gurumuda.net\/kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gurumuda.net\/kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/gurumuda.net\/kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=605"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/gurumuda.net\/kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/605\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/gurumuda.net\/kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=605"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/gurumuda.net\/kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=605"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/gurumuda.net\/kebidanan\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=605"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}